Kamis, 05 Desember 2013

Welcome to the world, babies! ( a journey of 32 weeks 6 days withyou )- PART 1

Pada saat saya composing cerita ini, Bumi dan Laras sedang tidur di samping saya. Titipan Tuhan  yang paling indah ini hadir kedunia sebulan lebih cepat dari perkiraan, mungkin karena didalam perut sudah terlalu sempit. Hihihi.

27 September 2013.
Hari ini usia kehamilan saya 32 minggu 5 hari. Saya berangkat ke kantor seperti biasa. Sore harinya setelah capek bekerja, saya mengambil waktu senggang di lobi kantor dengan beberapa colleague sekedar berbagi cerita dan canda. Kali ini malah ada Mbak penjual kue yang mampir jadi sekalian deh  ngobrol ngalor ngidul sambil makan somay, klapertaart dan makaroni schotel dagangan si Mbak penjual kue. Hehehe, banyak amat yang dimakan. Ya iyalah saya kan lagi hamil, kembar pulak. Jadi harus makan banyak. Alasann....*grin*.

Saat ngobrol ngobrol , saya merasakan kejadian yang saya rasakan sebulan lalu dimana pada saat usia kehamilan 28 minggu saya bleeding. Waktu itu kejadiannya di malam hari pas pulang kantor dan tanpa tanda-tanda sekarang terulang lagi. Tepat jam 16.30, di kantor. Seperti deja vu. Buru-buru kepada orang kantor saya minta dianterin ke RS Anugerah. Lumayan heboh waktu itu. Gimana enggak, darah sudah berceceran di lobi kantor. Anehnya, disaat orang orang panik saya malah tenang luar biasa. Saya langsung telpon suami untuk ketemuan di RS Anugerah. Mungkin karena udah pernah ngalamin, saya sudah tahu harus bertindak apa. Akhirnya singkat cerita saya dibawa ke RS Anugerah dan mendapatkan penanganan cepat. Malam hari sekitar jam 8 an saya baru bisa ditemui oleh Dr Indra. Setelah dilakukan pengecekan melalui USG akhirnya ketauanlah saya baru saja mengalami solusio plasenta atau terlepasnya sebagian/seluruh plasenta dari dinding rahim yang ditandai dengan pendarahan hebat. Dr Indra bilang, kalo malem ini pendarahan belum juga mereda terpaksa dilakukan sectio caesar segera. Tapi jika mereda, akan dipending sampai besok pagi karena Dr Indra masih perlu memberi suntikan pematang paru janin sebanyak 4 kali lagi. Dulu pada saat saya bleeding di usia kehamilan 28 minggu saya juga disuntik pematang paru janin sebanyak 6 kali. Ternyata pendarahan mereda, sehingga saya dijadwalkan sectio caesar pada pukul 7 pagi dengan kondisi berat bayi hanya 1.9 kilo dan 1.8 kilo. Oh Lord, how tiny they are. Dini hari saya dan suami berdoa bersama minta dilancarkan proses persalinan sehingga saya dan kedua anak kami selamat tiada kurang satu apapun.

28 September 2013
Jam 6.00 pagi dibantu suster, saya bersiap siap untuk sectio caesar pertama kalinya dalam hidup saya. Sejam kemudian saya masuk ke ruang operasi. Jam 7.20 lahir anak pertama kami yang kami namakan Wirabumi Galih Anggara ( it's baby boy! we call him, Bumi ).  Jam 7.23 lahir saudara kembarnya, Lintang Larasati Anggara ( it's baby girl, call her Laras ). Berbeda dengan Bumi yang begitu lahir langsung menangis dengan amat sangat kerasnya, Laras tidak mengeluarkan suara apapun. Saya yang hanya dibius lokal , ditengah rasa kantuk akibat efek bius, masih bisa merasakan kekhawatiran. Kenapa bayi saya yang kedua ini ga nangis ya, ada apa? Begitu saya tanya Dr Indra, ternyata Laras nangis kok, hanya aja perlu distimulasi terlebih dulu. Semua baik baik saja, mereka normal. Gak berapa lama kemudian kedua bayi itu dibawa ke hadapan saya, haduh. saat itu juga saya langsung jatuh cinta kepada mereka. Biarpun kecil tapi mereka cute bangetttt. Here they are :


Saya stay di RS Anugerah sampai dengan 5 hari kemudian sedangkan Bumi & Laras karena beratnya yang masih dibawah 2 kilo harus stay lebih lama di inkubator. Bahkan mereka juga mengalami bilirubin tinggi dan harus menjalani fototerapi terlebih dulu. Saya inget banget pada hari saya boleh pulang ke rumah, saya nangis nangis karena Bumi & Laras tidak bisa pulang bersama saya. Hari itu mereka malah sedang menjalani fototerapi hari pertama. Sedih banget. Tapi saya diingatkan oleh suster suter untuk tidak terlalu mellow karena nanti bayi nya juga jadi rewel. Saya kan tetap bisa datang ke RS untuk menengok mereka. Akhirnya memang setelah saya pulang ke rumah, hampir setiap hari saya habiskan hanya di RS untuk standby manakala mereka lapar saya langsung menyusui Saya juga membawa pompa dan memerah ASI di RS. Biasanya saya di RS dari pagi sampai sore, lalu pulang ke rumah dan kembali malam hari untuk mengantarkan ASIP serta standby menyusui lagi. Saya baru pulang ke rumah tengah malam. Dini hari sekitar jam 2 atau jam 3 saya kembali bangun untuk memerah ASI. Pokoknya berjuang benar benar supaya mereka jangan sampai minum susu formula terlalu banyak ( mereka sempat diberikan susu formula S26 LBW - Low Birth Weight - pada waktu ASI saya belum keluar )  Dan perjuangan itu masih berlanjut sampai dengan mereka pulang ke rumah. Ini foto saya pada saat menyusui Bumi. Laras saat itu sulit menyusui langsung karena reflek hisapnya masih kurang sehingga seringnya Laras diberikan ASIP dengan menggunakan pipet. 


Sebulan pertama setelah Bumi & Laras diperbolehkan pulang adalah masa masa penuh perjuangan.  Saya harus tetap memberikan ASI karena memang itu yang terbaik untuk mereka. Dengan jadwal yang diberikan oleh DSA, satu jam sekali mereka harus menyusu, artinya per setengah jam saya menyusui Laras lalu menyusui Bumi. Begitu terus selama 24/7. Saya sampek mau pengsannnn. Dan jam demi jam menyusui tersebut harus tercatat lalu diberikan pada saat kontrol dengan DSA. Nanti ya ceritanya, sekarang mau maen bareng Bumi dulu. Larasnya lagi bobok.

Minggu, 08 September 2013

I didn't know I have placenta previa until that dae...

I didn't know I have placenta previa until that dae...

20 Agustus 2013

Pulang kantor setelah seharian full dae meeting, begitu turun dari mobil udah mbatin " such a tiring dae ". tapi hari seperti itu amatlah sering. Capek dan crowded di ofis bukan hal baru. Jadi biasanya langsung dibawa tidur aja, besok sudah ada hari yang baru. Kalo kebetulan besoknya wiken, ya happy banget. Bisa request jalan kemanaaa gitu ke hubbby, apalagi semenjak saya hamil. Buat suami, your wish is my command. Hahahha. Beruntunglah suami dapet istri macem saya yang gak suka memanfaatkan keadaan. Kalo pengen ya pengen, kalo enggak ya gak dipengen-pengenin hanya untuk dapat perhatian. Ndilalahnya, si kembar adalah anak-anak yang juga tidak demanding ( cieee ampun deh emak-emak ya begini ini, anak nya numero uno teuteup...hehehhe ). Jadi si kembar juga permintaan nya gampang bangettt, ya nasi goreng lah, ya pecel lah. Gitu tok. Dari awal kehamilan sampek sekarang.

20.00 WIB

Selesai mandi, maem, niatnya lanjut bobo. Secara hubby lagi di Tegal jadi kan ga ada yang bisa diajak ngobrol juga di rumah. Bobok cantik sudah paling bener! Hihihih. Ealah kok ya pas udah bobok an, saya haus. Bangun deh dari tempat tidur, dan terjadi lah yang selama ini saya selalu takutin. Tiba-tiba saya merasakan bleeding lagi dan banyak. Huaa ada apa lagi? bersih bersihin tapi darahnya ga kunjung berhenti. Langsung ambil hp buat ngabarin suami. Itu yah, casing iPhone saya kan putih. Pas saya pake buat nelpon, jadi aja itu iPhone warnanya ga putih lagi kena tangan saya. Serem deh kalo inget. Suami langsung nyuruh saya straight away ke RS Anugerah karena kami tahu malem itu Dokter Indra masih praktek. It is his hospital, so it's more like a home for him. Jaminannya, dia bisa ada disana more than 12 hours setiap hari nya. Satu keuntungan juga buat kami. Tapi sama siapa ke RS Anugerahnya? Ternyata suami sudah menelpon Pak RT dan tetangga dekat kami. Jadilah malem itu saya ke RS Anugerah dianter Pak RT, bu RT, dan tetangga dekat kami itu. Bersyukur punya tetangga baik baik. Tau sendiri keluarga kami masing masing jauh. Satu di Jakarta, satu di Sidoarjo. Jadi support system terdekat yaaa tetangga itu. Makanya sebisa mungkin kami jaga hubungan baik dengan tetangga dengan senantiasa menolong mereka jika dibutuhkan. Sesampainya di RS Anugerah, langsung dilakukan tindakan dan ga lama kemudian saya ditemuin oleh Dokter Indra. Dia bingung. Katanya memang plasenta saya kebawah, tapi terlalu dini untuk bilang itu plasenta previa mengingat usia kehamilan juga baru memasuki 28 minggu. Vonis plasenta previa bisa dikenakan hanya jika usia kehamilan memasuki 32 minggu. Itu sih menurut dokter saya yaaa. Tapi saya amat sangat menyesalkan kenapa juga pada saat ultrasound detail di usia kehamilan saya 24 minggu, Dokter Indra ga memperingatkan saya apa-apa. Pun soal plasenta saya yang agak ke bawah. Paling tidak saya jadi lebih berhati-hati. Anyway, intinya hari itu saya kecapek'an. Itulah sebabnya terjadi pendarahan. And like any other cases of placenta previa, pendarahan tidak ditandai dengan rasa nyeri. Persis yang saya alami. Malem itu juga menurut suster, perut saya kenceng-kenceng, ga tau deh apa itu yang namanya kontraksi. Saya sih ga ngerasain apa-apa. Untuk mengantisipasinya saya diberi suntikan anti kontraksi dan anti pendarahan. Untuk si kembar, dikasih suntikan pematang paru supaya organ mereka jauh lebih siap just in case terjadi kelahiran lebih dini, which i hope ENGGAK TERJADI. Itu doa saya berulang ulang karena si kembar masih kecil kecil. Duh hanya nulis gini aja rasanya udah mrebes mili deh. How i love them so much dan berharap selalu yang terbaik untuk mereka. Dokter Indra lalu memberikan instruksi tindakan untuk saya selama beberapa hari ke depan kepada suster-suster, beliau juga memberikan timeline nya kepada saya sehingga saya tau apa yang akan dilakukan kepada saya karena Dokter Indra tidak akan ada langsung untuk memberikan penjelasan. Belio akan ke Singapure dan tugasnya digantikan sementara oleh si adik, Dokter Vika. Singkat cerita saya dirawat selama 4 hari. Di hari ke 4 sebenarnya masih ada flek tapi menurut dokter Vika itu hanya sisa sisa pendarahan saja. Dilakukan final check melalui ultrasound. Si kembar baik baik saja. Ya memang selama 4 hari itu juga setiap 3 jam sekali denyut jantung mereka dicek. Jadi saya sendiri bisa tahu perkembangan mereka terus. Bahagia dan kadang ketawa ketawa bareng suster yang meriksa manakala setiap periksa denyut jantung selalu terdengar suara seperti tapak kuda ( itu bunyi denyut jantungnya ) yang kenceng diiringi dengan gerakan gerakan super aktif. Kadang salah satu dari si kembar ngumpet sampek suster bingung nyariin posisi nya. Kadang kalo terlalu lama ga nemu-nemu, ada tendangan tendangan kecil dari dalam. Wih anak-anak kuuu, kok yo pecicilan gitu. Akhirnya si bapake turun tangan, si kembar diomongin untuk ga ngumpet pas diperiksa denyut jantung sama suster, biar susternya ga bingung. Ternyata dua-duanya nurut, mereka lebih cepet 'ditemukan' lho. Hmmm dah ada tanda tanda dari awal kehamilan sampe sekarang, nurut bener ama bapake. Gak papa deh, somehow saya emang pengen begitu kok. Karena saya yakin kalo dengan ibu akan selalu ada bounding, gimanapun juga mereka tumbuh dan besar di rahim saya. Tapi dengan bapak, bounding itu harus dipupuk dan saya yakin peran bapak dalam tumbuh kembang anak amatlah besar.

Setelah kembali dari RS, saya harus bed rest selama 2 minggu. Lalu saya sedikit melanggar peraturan dokter dengan hanya bed rest seminggu, dan sisa seminggu nya saya tetep ngantor tapi setengah hari. Selain karena kerjaan dan tanggungan di kantor masih banyak banget, saya juga bosen di rumah doang ga ada kegiatan. Setiap hari yang ditunggu kepulangan suami dari kantor. Haduh ga enak banget, mengingat setiap harinya saya biasa berangkat dan pulang bareng suami ( kalo pas suami gak keluar kota ), biasanya malah banyak hal yang kita obrolin di mobil pas perjalanan PP ke kantor. Jadi saya kangennn banget ama rutinitas itu pas kemarin saya diharuskan bed rest. Lalu seminggu setelah pulang dari RS saya kontrol lagi sama Dokter Indra. Saya nanya kapan sih saya kira kira lahiran, dikasih prediksi waktu kelahiran saya di awal November, atau akhir Oktober pun sudah good enuf. Berarti sebentar lagi ya. Saya kuatir banget karena si kembar beratnya masih 890 dan 990 an gram. Masih kecil yaaa...ayo kita berjuang Nak! Tambah berat badannya yaaaa. Sekarang saya sudah balik ke kantor full time kerja seperti biasa. Doa saya semoga tidak bleeding lagi, tidak terjadi hal hal yang tidak diinginkan, si kembar lahir tepat pada waktunya dengan lancar, sehat sempurna. Aamiin. Bantuin doa yaaa

Rabu, 31 Juli 2013

It's fraternal twins or identical twins? i love them anyway, unconditionally

Last week tepatnya tanggal 27 Juli kemarin, saya berinisiatif memeriksakan si kembar ke Dokter Indra. Pertimbangannya, saya mau mudik ke Jakarta dan lanjut Surabaya. I need to consult aja, whether it is can be done or prohibited sama Dokter Indra. He's like our cenayang yakkk. Hehehe. Gak dink, cuma emang sudah waktunya kontrol aja sih. Terakhir kan pas tanggal 15 Juni lalu. Udah lama banget kan? Pas kontrol itu usia kehamilan saya 23 weeks 5 days. Makanya cuma dikasih resep vitamin, trus suntikan tetanus aja. Jadwal ultrasound dimundurin jadi tanggal 31 Juli supaya usia kehamilannya pas diperiksain itu sudah masuk ke usia 24 minggu = 6 bulan. Awalnya dapet jadwal sore jam 16.00 trus dimajuin jadi 06.30. Uh paginya. Tapi demi yaaa... pengen ngeliat perkembangan anak-anak tersayang, emak bapaknya langsung jabanin. Syukurlah keadaan anak-anak sehat, dicek satu persatu kondisi nya, sampe jantung kecil mereka pun dilihat. Trus ada surprise indah, katanya jenis kelamin mereka cowok dan cewek! wohoooo what a double triple quadruple blessings. Sebenernya agak berbeda dengan prediksi Dokter Indra yang bilang anak kami ini kembar dengan satu placenta ( walaupun dua amnion ) kemungkinan besar adalah kembar identik, which means berjenis kelamin sama! either co-co atau ce-ce. Eh ga taunya kok bisa jadi fraternal twins yang berjenis kelamin berbeda. Pokoknya sehatkan kami selalu, dear Lord. Jadikan kami berkat buat lingkungan kami, biar kami kembalikan semua kebaikanMu dengan memberi kebaikan juga kepada sekitar. Amin. Oh iya doakan juga proses renovasi rumah kami berjalan lancar ya. Renovasi sederhana untuk menambah 2 kamar dan dapur aja kok. Thank you dear Lord, semua serba dicukupkan rejekiMu kepada keluarga kecil kami ini. Ga pernah lupa bersyukur biar ditambahkan selalu nikmat nya oleh Tuhan. Foto ultrasound menyusul. Kemarin kami ultrasound di lab Prodia karena Dokter Indra juga praktek disana. Bagus banget lho sistemnya, selesai ultrasound kami mendapat satu lembar keterangan lengkap kondisi bayi, dapet satu album dan cd berisi foto-foto juga. Biayanya standar aja Rp 450,000. See you on another posting about us!

Kamis, 11 Juli 2013

Karimun Jawa – a hidden Paradise in Central Java, Indonesia

Herewith one of the article i made for asian travel blog. My friend Marco from Holland is the founder of the blog

My article about Karimun Jawa

You may click the link above to see the full article

Senin, 20 Mei 2013

Someone who believes in me - mementos of a great person that shape me into who i am today - MY DAD ( part 1 )

Setiap anak pasti memiliki kenangan indah akan masa kecil mereka. Tidak terkecuali juga saya. Dan untuk setiap kenangan indah dalam ingatan saya, ternyata ada satu sosok yang selalu hadir, yaitu sosok Bapak. Mengingat Bapak selalu bikin mbrebes mili, jd mellow dan mata serta merta berkaca-kaca. Soalnya Bapak sudah lama meninggal, melewatkan banyak momen terpenting dalam hidup saya.Hiks. Sedih.

Bapak adalah type orang tua yang hampir tidak pernah melarang anaknya kecuali memang benar benar keterlaluan. Hihihi ga bagus juga ya. Tapi mungkin itu bentuk beliau mengajarkan bebas tapi bertanggung jawab. Untuk saya sih malah tepat banget pendekatan seperti itu. Terbukti saya malah secara sadar diri ga pernah mau merusak kepercayaan yang Bapak berikan dan sekalinya dikasih kepercayaan langsung pengen membuktikan semaksimal mungkin. Berbeda 360 derajad dengan Ibu yang selalu melarang dan satu sifat Ibu ini yang harus diakui membuat masa remaja saya menjadi sulit.

Dulu setiap bulan sejak saya mulai bisa membaca selalu ada acara ke toko buku bersama Bapak. Biasanya saya dikasih budget kira-kira 20-30 ribu untuk beli buku. Sangat mewah lho untuk ukuran jaman itu. Setiap kali bingung atau kepengen suatu buku tapi ga nemu, Bapak selalu encourage saya untuk berani bertanya ke Mbak/Mas petugas toko buku nya. Padahal asli dulu rasanya takut dan malu, tapi terpaksa. Jadi mau gak mau saya beranikan diri untuk gak malu bertanya. Terbukti, kecintaan akan membaca tumbuh sampai saya dewasa, memperkaya hidup saya dengan ilmu dan wawasan baru setiap waktu. Benar adanya apa yang dibilang orang, buku adalah jendela ilmu.

Selain membaca, ada satu kebiasaan baik yang Bapak tumbuhkan kepada saya yaitu menulis. Iya, menulis. Menuliskan perasaan, opini, rangkaian kejadian dan pengalaman yang saya lewati dalam bentuk diary. Itu berlangsung dari kelas 3 SD sampai sekarang. Bedanya kalo sekarang saya sudah tidak konsisten lagi menulis diary, kadang setahun cuma ngisi diary beberapa kali. Tapi pokoknya biarpun mungkin ga terlalu appealing banget isi tulisan saya, saya bisa menulis kok. Lancar lancar aja kalo diminta bercerita dalam bentuk tulisan. Asalkan menulis dalam bahasa Indonesia atau Inggris ya, diluar itu mah gak bisa. Eh pernah dink dalam satu kurun waktu ( tahun 98 ke 99 ), saya menulis diary dalam bahasa Prancis lho. Keren banget tapi itu dulu. Sekarang sudah lupa...:))

Tadi saya sempat menyinggung soal menulis dalam bahasa Inggris ya? Memang bahasa Inggris bukan hal asing buat saya. Bapak saya ga bisa bahasa Inggris, tapi inget banget pas kira kira kelas 3 SD di salah satu kunjungan kita ke toko buku, Bapak nunjukin buku Enid Blyton versi bahasa Inggris dan meminta saya membeli buku itu. Saya bingung karena saya belum mengerti bahasa nya, tapi Bapak bilang nanti diajarin sama kakak-kakak saya. Pada akhirnya saya ga pernah benar benar diajarin bahasa Inggris oleh kakak-kakak saya yang mungkin dulu juga sibuk dengan pergumulan hidup mereka masing masing. Hehehhe. Saya nemu kamus bahasa Inggris, trus saya cari sendiri kata per kata artinya. Begitu terus sampai kelas 1 SMP akhirnya saya ikut les bahasa Inggris di deket rumah. Kursusnya masih basic english, tapi saya langsung jadi juara kelas di tempat les itu. Kosa kata saya sudah banyak sekali , jauh melampaui teman teman sekelas yang masih gitu gitu aja deh...hahahha, sombong...!! Ini juga terjadi pas SMA saya ambil kursus bahasa Inggris di LIA bareng temen-temen. Sebelum mulai les kami di tes dulu untuk menentukan masuk ke level yang mana. Apakah basic, intermediate atau advance. Disaat temen-temen saya masih basic ( either basic 1,2,3 atau 4 ) eh cuma saya yang masuk Intermediate 1 ( apa langsung Intermediate 2 yaaah, lupaaa )

Salah satu persimpangan dalam hidup saya terjadi pada saat saya mau masuk SMA. Sesuai dengan aturan Pemerintah, saya harus memilih 3 pilihan SMA dan nantinya akan diterima berdasarkan hasil ujian akhir yang diselenggarakan pemerintah ( resultnya berupa nilai NEM ). Sebenernya saya tahu saya ini ga bego bego amat, malah cerdas. Terbukti pas SD saya sering masuk 5 besar, pas SMP saya masuk ke dalam kelas yang memang isi nya anak-anak paling cemerlang dan nilai NEM di SD serta SMP masuk ke 3 besar satu sekolahan. Tapi saya gak percaya diri. Rasanya saya ini terlahir untuk menjadi rata-rata. Mediocrity is my middle name. Akhirnya saya ga berani memilih SMA 14 yang merupakan salah satu unggulan di Jakarta. Trus Bapak memaksa saya untuk memilih SMA 14, selain karena sebagian besar kakak-kakak saya sekolah disana, Bapak juga percaya saya bisa. Ealah ternyata Bapak saya benar, saya bisa masuk ke SMA 14, malah pas sudah masuk dan NEM saya diurutin, saya masuk ke peringkat 16 besar di SMA 14. Terus banyak kejadian kejadian setelahnya yang semakin menguatkan kepercayaan diri saya ( salah satu nya saya lulus UMPTN sampe dua kali, satu di UI dan satu lagi di UNPAD ). Perlahan saya benar benar percaya, secara akademis saya emang ga bego kokkkk *nari hula-hula*

Saya gak mungkin bisa seperti sekarang, menjadi pribadi yang selalu ingin belajar, punya impian yang ingin dikejar, well educated, tanpa bimbingan dan didikan Bapak. Beliau orang hebat nomer satu dalam hidup saya. Masih banyak lagi cerita tentang Bapak, saya lanjutkan di lain waktu ya. Waktu istirahat siang sudah selesai, time to go back at work.



Minggu, 12 Mei 2013

Rimba Amniotik - taken from Madre -

Ini cuplikan puisi yang saya ambil dr buku Madre by Dee Lestari. Puisi ini sangat indah dan menyentuh perasaan saya sampai ke dasar. Mungkin karena kisah dr puisi ini juga seperti yang sedang saya alami. Dee Lestari menulis ini pada saat sedang mengandung Atisha, putri kedua nya.

RIMBA AMNIOTIK

Sembilan bulan ini mereka bilang aku tengah mengandungmu.                                                               

Aku ingin bilang, mereka salah.                                                                                                     

Kamulah yang mengandungku.                                                                                                               

Seorang ibu yang mengandung anak di rahimnya sesungguhnya sedang berada dalam rahim yang lebih besar lagi.                                                                                                                                                      

Dalam rahim itu, sang ibu dibentuk dan ditempa.                                                                                  

Embrio kecil itu mengemudikan hati, tubuh, dan hidupnya.



Terima kasih telah mengandungku;                                                                                           

menempatkanku dalam rimba amniotik di mana aku belajar ulang untuk mengapung bersama hidup,            
untuk berserah dan menerima apa pun yang kau persembahkan.                                                             

Kini dan nanti.                                                                                                                                

Manis, pahit, sakit, senang,                                                                                                                      

kau ajari aku untuk berenang bersama itu semua,                                                                               

sebagaimana kau tengah berenang dalam tubuhku dan merasakan apa yang kurasa,                                    

mengecap apa yang kumakan,                                                                                                       

menghirup udara yang kuendus—tanpa bisa pilih-pilih.                                                                           

Kau terima semua yang kupersembahkan bagimu.



Terima kasih untuk perjalanan ini.                                                                                                      

Untuk pilihanmu datang melalui aku.                                                                                                 

Untuk proses yang tak selalu mudah tapi selalu indah.



Aku tak sabar untuk mengenalmu lagi.

Lagi dan lagi.

Senin, 06 Mei 2013

12 minggu 2 hari, hello 2nd trimester!

Dear my twin babies, hari ini tepat usia kalian 12 minggu 2 hari. Akhirnya kita berada di trimester kedua. It is such a bliss, an ecstatic joy. I don't know how to describe the feeling. Yang jelas bahagia. Perjalanan kita bertiga masih panjang, tapi Ibu percaya kita akan selalu berjuang bersama.

Love,
Your one and only mom


4 May 2013
Sabtu pagi itu saya kembali memeriksakan kehamilan ke RSIA Anugerah. Pertemuan dengan dokter Indra kali ini singkat. Diawali dengan tes gula darah, yang hasil nya tergolong bagus 76. Sampe dokter Indra bilang kalo saya boleh makan apa aja kok. Ngopi juga boleh, asal satu cangkir sehari. Mau ke Starbucks monggo, wong itu kan juga kebanyakan sebatas flavour, kafein nya dikit. Tapi biarpun yang ngomong dokter yang cukup saya percayai, untuk urusan kopi saya ga mau ah. Nunggu sampai waktunya tepat, entah sesudah lahiran atau sesudah gak menyusui. We'll see. Saya sempat menyinggung soal saya yang lagi-lagi kena flu. Berbeda dengan sewaktu saya di opname, dokter Indra mau memberi obat flu. Kali ini dia say no, dan memberi saya vitamin C instead. Kalo ga enak badan minum jahe aja yaaa...huhuhuh macem dokter luar negeri aja deh ah dokter saya ini, beliau tergolongnya cukup anti obat. Dan anti USG sering-sering juga. Kenapa saya bisa bilang begitu? Jadi pada awal pertemuan saya kirain bakalan di USG lagi nih, kan saya juga pengen liat perkembangan the babies. Tapi ternyata dokter Indra menjadwalkan USG lengkap di bln depan pada usia kehamilan saya 4 bulan sekaligus test TORCH dll yang artinya untuk sekarang gak perlu USG. Tp berhubung saya sedikit persist, jadi sekedar tombo kepengen, saya di USG sebentar banget di pemeriksaan kali ini. Thank God my babies are growing rapidly. Dari yang kmrn panjangnya cuma 2 cm & 2,37 cm sekarang sudah menjadi 5,9 cm & 6 cm. So cute *smooch*

Here are my babies ultrasound's pic di usia 5 minggu, 6 minggu dan 8 minggu 6 hari, enjoy

                                                                  5 minggu

6 minggu



                                                                     8 minggu 6 hari


Selasa, 30 April 2013

Malaikat kecil yang sudah kami tunggu 1 tahun 2 bulan lamanya...

Setelah 5 tahun pacaran, finally saya dan suami memutuskan saatnya menempuh "perjalanan baru" di tahun 2011. Kami menikah, menempati rumah milik sendiri dalam kondisi keuangan yang pas-pasan. Hehehe. Saat itu kami berharap mudah-mudahan langsung dikarunia momongan biar rumah rame. Well, manusia boleh berencana tapi Tuhan juga penentu segalanya. Sampai setahun berlalu, kami belum dititipkan Nya malaikat kecil. Banyak yang bilang mungkin karena selain bekerja saat itu juga saya sedang melanjutkan study S2. Akhirnya saya wisuda di bln Oktober 2012. Setelah hingar bingarnya thesis jadi bisa sedikit lebih santai, tapi harapan untuk hamil makin lama makin tipis dan sudah sampai pada titik sumeleh alias pasrah. Habis berasanya seIndonesia Raya nanyain terus soal kapan hamil :D  Encouragement kebanyakan saya dapatkan dari keluarga dekat dan beberapa temen foreigner.

Memasuki Januari 2013, saya dan suami sudah ancang-ancang untuk memulai program ke dokter kandungan. Menurut dokter yang kami pernah datangi sebelumnya, suami istri yang tinggal satu atap dan "berhubungan" secara rutin namun belum dikarunia anak setelah usia pernikahan satu tahun, disarankan untuk memulai pemeriksaan intensif. Oleh karena suami sering banget pergi ke luar kota urusan pekerjaan, rencana ke dokter kandungan tertunda melulu. Ya sudah lah hari berganti hari , memasuki bulan Maret. Baru sadar tanggal 10 Maret kan harusnya saya sudah mens, kok ini belum juga ya...akhirnya dengan semangat 45 beli test pack, langsung 3 biji lho biar yakin! dan bener aja, ternyata positif. terlihat dua garis walaupun yang satu garisnya masih samar. Rasanya bahagia, luar biasa! Gak lupa langsung memberi kabar ke Ibu & Mama Mertua, dua orang hebat yang telah menjadi soul provider kami selama ini. Both of them are happy, tentu saja.

Penasaran akhirnya pada tanggal 23 Maret kami memutuskan untuk check ke dokter, mau lihat baby kami melalui Ultrasound/USG . Waktu itu saya memutuskan untuk periksa ke RS Elizabeth dengan Dokter Indra. Pilihan ini juga bukan sembarangan, sudah dari dulu diantara semua RS di Semarang, RS Elizabeth adalah yang terbaik dalam pandangan saya. Sedangkan Dokter Indra adalah dokter yang menangani sahabat saya di kampus, sudah berulang kali menolong pasangan yang ingin punya anak dan menunggu bertahun-tahun dalam penanganan Dokter Indra akhirnya berhasil untuk memiliki keturunan. Pertimbangan saya, berarti Dokter Indra sudah terbiasa menangani kondisi out of ordinary. Pertama kali ketemu, Dokter Indra bilang usia kehamilan ini masih terlalu muda untuk dicek melalui USG biasa, jadi lah dilakukan USG Transvaginal. Begitu dimulai USG nya, terlihat ada dua bulatan di layar yang saya sendiri masih kurang mengerti apa itu. Trus Dokter Indra manggil suami untuk ikutan melihat, dan ternyata oh ternyata dua kantong yang ada di layar adalah dua kantong omnion yang akan menjadi tempat tumbuh nya bayi kami kelak. Dua kantong amnion berarti akan ada dua embrio/janin. Langsung saya sama suami kaget ga percaya " Hah, kembar Dok??? " dijawab Dokter Indra dengan anggukan dan dia bilang " Hebat!!" Ya ampuuun. What a wonderful blessings, kami ga menyangka sama sekali. Betapa Tuhan selalu baik.

Dari hasil ultrasound pada tanggal 23 Maret 2013 itu diketahui jg ada sedikit bleeding pada rahim saya. Ga ada pesan apa-apa dari Dokter Indra selain jangan terlalu banyak kegiatan berat. Tanpa ada firasat apa-apa, pagi hari di tanggal 25 Maret, dini hari saya ingin ke kamar kecil. Betapa kagetnya karena mendapati banyak sekali darah seperti mens.Langsung bangunin suami yang seketika panik. Setelah telpon sana sini, kami memutuskan untuk ke RS tempat Dokter Indra praktek setiap hari karena memang itu RS milik beliau, yaitu RSIA Anugerah. Sampai disana, langsung dilakukan pengecekan. Hasilnya walaupun bleeding nya cukup banyak tapi jalan rahim masih menutup. Berarti masih ada harapan. Saat itu yang saya rasakan mau nangis juga gak bisa, yang ada hanya takut dan pasrah. Baru juga kami bahagia luar biasa karena tau anak kami kelak kembar, tapi kebahagiaan itu seperti terambil dengan cepatnya. Dokter Indra segera melakukan tindakan dan saya diputuskan harus opname. Jika memang pendarahan sudah berhenti, akan dilakukan USG lagi untuk melihat kondisi rahim. Ternyata pendarahan langsung berhenti keesokan hari nya, jadi tanpa menunggu lebih lama lagi diputuskan untuk melakukan USG transvaginal. Dag dig dug menunggu tampilan di layar. Masih terlihat dua bulatan seperti hasil USG sebelumnya. Lalu Dokter Indra berusaha keras mencari keberadaan embrio. Di kantong amnion pertama terlihat embrio yang bergerak-gerak, pindah ke kantong amnion ke dua pun juga terlihat hasil yang sama. Ya Tuhan, kedua anak kami baik- baik saja. Lega tak terkira. Suami sampe keluar keringat dingin padahal ruangan tempat USG luar biasa dingin. Dari hasil USG juga diketahui ada darah beku sebanyak 40 cc di rahim saya yang harus diambil. Besoknya dilakukan prosedur MCA - Mucus Cervical Aspiration ( pengambilan darah beku tersebut ) dan setelahnya Dokter Indra langsung menemui suami saya dengan kabar baik. Bahwa kedua anak kami baik-baik saja pun juga ibu nya. Nah disitu kata suami sih, dia sampe nangis. Mungkin itu ekspresi kebahagiaan sekaligus lega. Setelah opname 4 hari saya diperbolehkan pulang dengan tambahan syarat harus bed rest lagi seminggu. Jd total bed rest nya sih 2 minggu.Lalu dijadwalkan 2 minggu kemudian untuk periksa kembali ke Dokter Indra. Oh iya, keadaan pendarahan yang saya alami dinamakan Abortus Imminens ( duh serem yaa denger namanya ), penyebabnya karena memang rahim saya kurang hormon sehingga tidak kuat. Biaya RS nya terbilang cukup mahal untuk ukuran kantong kami, karena memang RSIA Anugerah adalah salah satu RS termahal di Semarang, mungkin karena kategorinya RS milik pribadi gitu kali ya. Beyond everything, rejeki bisa dicari. Yang penting semua selamat, betapa sekali lagi Tuhan menyertai kami dengan segala kebaikan Nya.

Di usia kehamilan 8 minggu 6 hari ( tanggal 13 April ) kami periksa lagi ke Dokter Indra. Dilakukan USG Transvaginal, memang kami masih berada di bawah pengawasan intensif beliau. Syukurlah kedua embrio sudah menjadi janin dengan panjang yang satu 2 cm, dan satu nya lagi 2,37 cm. Dokter Indra bilang saya tidak perlu lagi makan obat penguat kandungan, yang saya tanggapi dengan sedikit protes " are you sure Dok? saya masih takut bleeding lagi :( " dasar Dokter Indra memang tipe dokter yang gak suka kasih obat banyak banyak kalo ga perlu. Beliau bersikeras saya konsumsi vitamin aja dan sedikit tambahan obat anti mual. Soalnya mual nya saya ini all day sickness bikin susah maem. Berat pun sampe turun 3kilo. Ya walaupun pada akhirnya obat anti mual itu ga pengaruh, emang anak kembar luar biasa deh ah urusan mual mual-an gini. Setiap hari bawaannya seperti masuk angin parah, makan pun harus yang saya mau. Kalo enggak, ya sukses mun mun.

Hari ini, 30 April 2013, usia kehamilan saya memasuki 11 minggu 2 hari. Sebentar lagi bakal embracing trimester kedua, semoga mual nya semakin mereda, makin doyan maem yang bergizi, dan kedua anak dalam kandungan ini tumbuh sehat sempurna tiada kurang suatu apapun. Terimakasih sudah menemani Ibu kemana-mana yaaa anak-anak ku, it's such an amazing feeling having you both inside my womb. Doa tiada putus untuk kalian dari kami.

Foto-foto USG menyusul ( belum di scan sama suami. hehehhehe )